Desa Ketundan, Lereng Gunung Merbabu
Film ini menceritakan perjalanan Pak Toni sebagai petani yang beralih tanam di Desa Ketundan, Lereng Gunung Merbabu. Daerah dengan ketinggian 2000-2500 meter diatas permukaan laut tersebut terkenal dengan potensi segala jenis tumbuhan termasuk tanaman tembakan. Tembakau juga merupakan penopang perekonomian keluarga Pak Toni untuk menafkahi keluarganya karena melihat tanaman tersebut sebagai komoditas yang sangat potensial.
Pak Toni telah menanam tembakau selama 5 tahun, hingga pada suatu ketika di tahun 2016, dia mengalami kerugian besar. Pertumbuhan tembakau kurang optimal dan nilai jual sangat turun, disitulah titik terendah kehidupan Pak Toni dan keluarga. Ermawati, istri Pak Toni mengungkapkan bahwa untuk menutupi kerugian tersebut mereka harus merelakan aset pertanian keluarga sebagai jaminan pinjaman ke salah satu Lembaga Keuangan. Bangkit dari keterpurukan tersebut, Pak Toni bersama petani lainnya mulai menggagas konsep baru yaitu Pertanian Terpadu dan Konsep Pola Tanam yang bersifat berkelanjutan. Dengan dua konsep tersebut dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani.
Selain itu, Desa Ketundan juga dapat bertahan di musim kemarau, hal ini dibuktikan dengan adanya embung mini untuk menampung air dari sungai yang bisa digunakan dalam musim kemarau. Adapun supply pupuk disana didukung dengan adanya bidang peternakan sapi dan domba yang dikembangkan di desa tersebut. Manfaat dari peternakan tersebut juga digunakan untuk gas pengganti LPG dari kotan sapi dan bahan dasar persemaian. Pak Toni dan warga di Desa Ketundan membuktikan bahwa dengan ketekunan dalam “hijrah” bertani dapat membalikkan keadaan kesejahteraan masyarakat.

Menceritakan tentang Bu Mosonah dan Bu Aminah, seorang buruh tani yang tinggal di desa Windusari.

Menceritakan tentang Pak Diyo, seorang petani alih tanam di Desa Windusari, Lereng Gunung Sumbing.

Menceritakan perjalanan Sofyan Adi Cahyono sebagai petani muda, pendiri usaha Sayur Organik Merbabu (SOM) di lereng Gunung Merbabu.