Melawan Arus Memulai Dari nol Lagi

Desa Windusari, Lereng Gunung Sumbing

Bu Mosonah dan Bu Aminah adalah seorang buruh tani yang tinggal di desa Windusari. Disana, pertanian merupakan mata pencaharian utama untuk bertahan hidup. Pada masa muda mereka sebagai buruh tani, tanaman tembakau sangat berjaya, bahkan pendapatan dari tanaman tersebut bisa digunakan sebagai modal utama untuk membuka usaha lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, masa kejayaan tanaman tembakau terpuruk, hasil panen semakin tak menentu dikarenakan faktor cuaca yang memperburuk proses tata niaga mereka. Ketika musim penghujan, panen tanaman tembakau akan terasa sia-sia karena tanaman menjadi basah dan tidak dapat diolah, yang dimana ujungnya akan dibuang ke sungai dan mengakibatkan para buruh tani tembakau akan merugi. Keadaan tersebut membuat Bu Musonah dan Bu Aminah bimbang, apakah mereka harus melanjutkan pekerjaan mereka sebagai buruh tani tembakau atau beralih ke tanaman lain. Dengan menimbang kerugian yang diakibatkan dari gagal panen tembakau tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk beralih tanam ke tanaman jagung, tela dan ubi. Dalam pengembangan proses beralih tanam, Kelompok Wanita Tani sangat berperan penting dalam membantu pelaku usaha tani.

Bu Qomariyah, selaku ketua Kelompok Tani Wanita (KWT) memaparkan bahwa awal mula berdirinya KWT ini hanya ada 5 anggota, tetapi sekarang sudah mencapai 48 orang dikarenakan banyak yang tertarik beralih tanam. Hadirnya KWT ini sangat bermanfaat bagi anggotanya karena bisa menambah ilmu inovasi dan kolaborasi dalam usaha tani. Hal yang dikerjakan dimulai dari menanam, memanen hingga pengolahan produk tanaman. Desa windusari bisa membuktikan sebagai kawasan peralihan tanam yang sukses bahkan menjadi kawasan utama produksi dan pengolahan ubi, walaupun tanaman tembakau masih menjadi selingan bagi beberapa buruh tani disana. Kesuksesan ini, tidak lepas dari peran petani yang mau berinovasi dengan melakukan peralihan tanam demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Video Lainnya: